Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Situs Sri Aji Joyo Boyo Bukti kejayaan Pemerintahan Jayabhaya

Written By Unknown on Kamis, 06 Desember 2012 | 13.55


Kediri-Portal - Pemirsa setia kediri-portal, siapa yang tidak mengenal JOYOBOYO, meskipun tidak mengetahui secara langsung tentang Raja Joyoboyo, setidaknya tahu tentang kisah Raja jayaboyo, raja yang memiliki seribu ramalan ini, apalagi ramalan tentang “Akan timbulnya Ksatria Piningit yang akan menyelamatkan Indosesia” cerita yang sudah mendunia.

Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.
Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri.

Kemenangan Jayabhaya atas Janggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.

Jayabhaya dalam Tradisi Jawa
Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.
Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.

Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.

Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga . Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.

"Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani."

Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri. | RY

Gua Sorowono - Gua Yang Exotic

Written By Unknown on Senin, 03 Desember 2012 | 11.44


Kediri-Portal - Gua exotic yang cocok untuk menguji nyali.

Gua Surowono ini berada di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri bagian dari Candi Surowono, yang konon merupakan sistem kanal dan tempat pertapa yang telah ada sejak zaman Kerajaan Kediri.

Lubang masuk ke Gua Surowono ini berada di sebuah sumur yang berada sekitar 5 meter di bawah permukaan tanah dengan genangan air jernih setinggi perut yang mengalir cukup jernih yang langsung mengalir dari sumber mata air. 

Meskipun Guanya cukup kecil, tetapi sangat tepat di gunakan untuk petualangan dan seru-seruan untuk sekedar melupakan rutinitas harian. Karena Gua Surawana memanjang seperti aliran dan terdiri dari 4 Gua yang berurutan.

Gua pertama dengan panjang ±100M, Gua Kedua panjangnya ±200M, gua ketiga ±100M dan lalu Gua keempat ±75M.. sangat tepat dijadikan petualang, karena didalam Gua yang gulap gulita, di tambah tetesan-tetesan air yang segar dari dinding dan atap Gua, air jernih yang mengalir cukup deras, dan yang menambah ke Extrem’an banyak percabangan Gua yang membuat kita kesulitan mana jalan yang benar yang harus kita lewati..



Tetapi jangan kuatir dengan hal tersebut, apabila kita di persimpangan jalan di dalam Gua. Kita cukup memilih mana aliran sungai yang cukup deras dari percabangan tersebut. Di karenakan air hanya melewati aliran canal yang kena di aliri, dan jalan yang tidak di aliri air itu menunjukkan jalan yang buntu.

Walaupun sangat exotic dan seru, hal ini tidak di barengi dengan pemerintahan daerah yang tidak melestarikan peninggalan bersejarah tersebut. Gua yang seharusnya bisa di jadikan Icon daerah, tetapi malah tidak di perhatikan dan terkesan terabaikan. | RY

Monumen Simpang Lima Gumul

Written By Unknown on Minggu, 02 Desember 2012 | 04.12



Kediri-Portal - onumen Simpang Lima Gumul yang sebelum dibangun dikenal dengan nama Proliman, berada di Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo, Kediri, Jawa Timur, di pusat pertemuan lima jalan yang menuju ke Gampengrejo, Pagu, Pare, Pesantren dan Plosoklaten. Kediri, tempat dimana pernah berdiri sebuah kerajaanyang agung dengan akar budaya yang kuat, justru mendirikan sebuah monumen yang menyerupai Arc de Triomphe.
Jika Arc de Triomphe, diilhami Arch of Titus yang dibangun orang Romawi pada abad pertama, dibuat di Paris untuk menghormati mereka yang bertempur dan mati bagi Perancis dalam Revolusi Perancis dan Perang Napoleon, maka tidak jelas Monumen Simpang Lima Gumul Kediri ini dibuat untuk menghormati siapa, dan mengapa bupati yang memprakarsainya tidak membuat sebuah monumen agung yang mengambil bentuk dari akar budaya setempat.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul dengan jalanan di sekeliling yang cukup lebar dan ditata dengan baik, dengan jajaran pepohonan pakis yang memberi kehijauan namun tampak tidak akan cukup untuk memberi keteduhan bagi pejalan dari terik matahari Kediri.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul tidak memiliki ornamen yang mengesankan, kecuali relief sederhana yang konon menceritakan sejarah Kediri, berbeda dengan Arc de Triomphe maupun Arc de Titus dengan memiliki lekuk dan detail ornamen indah, yang menunjukkan keseriusan pembuatan dan cita rasa seni budaya tinggi.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul memiliki enam lantai setinggi 30 m dan seluas 6.186 m2 dan pembangunannya menelan biaya lebih dari Rp 300 milyar. Sementara Arc de Triomphe tingginya 50 m, dengan lebar 45 m dan ketebalan and 22 m, dan Charles Godefroy pernah menerbangkan pesawat Nieuport biplane-nya melalui lubangnya pada sebuah perayaan untuk menandai berakhirnya Perang Dunia I.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul pada sebuah arca Ganesha, salah satu dewa yang banyak dipuja oleh umat Hindu dengan gelar sebagai Dewa Pengetahuan dan Kecerdasan, Dewa Pelindung, Dewa Penolak Bala dan Dewa Kebijaksanaan, diletakkan di salah satu sudut Monumen. Arca dengan ukuran yang sesungguhnya cukup besar itu, terlihat kerdil di Monumen Simpang Lima Gumul, dan tidak cukup untuk menerbitkan decak kagum.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul yang pembuatannya dikabarkan merupakan bagian dari rencana besar Pemerintah Kabupaten Kediri waktu itu untuk membuat sebuah Pusat Perdagangan yang juga berfungsi sebagai pusat rekreasi. Sebuah pemikiran dan rencana yang tampak sangat baik, namun sayang sekali pemilihan ikon-nya menjadi kontroversial dan tidak produktif.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul dengan jalanan lebar dan mulus di sekeliling Monumen, yang tampak terlalu mewah karena belum ada kegiatan ekonomi yang berarti di sekitar lokasi. Monumen Simpang Lima Gumul di Kediri ini mulai dibangun pada tahun 2003 dan baru diresmikan pada tahun 2008.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul dengan area parkir kendaraan yang dibuat dan ditata dengan baik, dimana dari sini pengunjung bisa melalui sebuah terowongan untuk menuju ke lokasi Monumen.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul ketika seorang lelaki tampak sedang menyabit rumput, mungkin untuk pakan ternaknya, di sekitar lokasi Monumen, sementara sepedanya disenderkan di sebuah pohon kecil di tepian jalan.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul pada jalanan mulus dan lebar di sekeliling Monumen yang masih menunggu pemanfaatannya secara ekonomi bagi masyarakat Kediri.
Monumen Simpang Lima Gumul
Monumen Simpang Lima Gumul dilihat dari sebuah sisi jalan. Suka tidak suka, Monumen Simpang Lima Gumul di Kediri itu sudah dibangun, dan telah pula menelan biaya ratusan miliar uang negara. Monumen Simpang Lima Gumul masih perlu untuk diperbaiki dan dikembangkan, baik dari sisi seni budaya maupun ekonomi.
Monumen Simpang Lima Gumul tentu sebaiknya diperkaya dengan detail ornamen yang mampu menunjukkan keagungan akar budaya Kediri yang tua dan kuat, yang bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat setempat dan bagi para pejalan yang datang ke sana. Dengan demikian, aspek ekonominya juga bisa pula berkembang. | FN

Gereja PuhSarang Kediri





Kediri-Portal - Gereja Puhsarang Kediri
 adalah salah satu Obyek wisata lokal religi ( umat Kristiani) andalan kota Kediri sampai saat ini. Berlokasi di kompleks Gereja Puhsarang di desa Puhsarang, kecamatan Semen, Kediri jawa timur, sekitar 10 km arah barat daya kota Kediri dan berada tepat  di lereng gunung Wilis.

Gereja Puhsarang Kediri
 didirikan atas inisiatif dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek terkenal waktu itu, Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1930an. Romo Jan Wolters CM adalah pecinta orang Jawa dengan segala kebudayaannya. 




Gereja Puhsarang Kediri

Gereja Puhsarang Kediri
 memiliki bentuk yang unik dengan nilai Arsitektur yang tinggi. Memasuki kompleks Puhsarang, serasa memasuki sebuah candi, dengan batu-batu yang sangat banyak. Daerah disekitar gereja ini memang penghasil batu kali, yang bentuknya bulat lonjong.  Ini rupanya mengilhami arsitek Belanda yang peduli dengan konteks arsitektur dan budaya setempat,  juga pada potensi daerahlokalnya.


Gereja Puhsarang Kediri



Pada kompleks gereja yang lama terdapat miniatur Gua Maria Lourdes yang merupakan replika atau tiruan dari patung Maria Lourdes. Di seputar patung yang kecil dalam gua terdapat tulisan di atas kuningan dengan menggunakan bahasa Jawa ejaan Belanda :

Iboe Maria ingkang pinoerba tanpa dosa asal, moegi mangestonana kawoela ingkang ngoengsi ing Panjenenengan Dalem. (Bunda Maria yang terkandung tanpa noda dosa asal, doakanlah aku yang datang berlindung kepadaMu).
Gereja Pohsarang Kediri


Gua kecil yang berada di sebelah kanan Gereja ini merupakan sebuah gua yang banyak didatangi oleh bukan hanya umat Katolik untuk berdoa, melainkan juga oleh umat lain yang bukan Katolik untuk melakukan meditasi atau bersemedi untuk  memanjatkan Doa kepada Tuhan yang Maha pemurah.
Gereja Puhsarang Kediri


Bangunan Gereja Puhsarang Kediri ini penuh dengan simbolisme. Ini merupakan suatu karya arsitektur yang sangat monumental dilihat dari berbagai sudut pandang: mulai dari lokasi, waktu pembagunannya, bahan bangunan,struktur, dan tentu saja fungsi dan keindahannya. 

Semua aspek termasuk budaya setempat dan filsafat agama dipadukan dalam bentuk arsitektur dengan amat serasi dan selaras. Ini dapat dilihat dari Gedung Serba Guna Emaus Puhsarang yang sangat unik, menyerupai sebuah perahu dan gunungan, dengan struktur dan arsitektur mirip Gereja Puhsarang, Atapnya memakai bentangan baja, tanpa rangka kayu di bagian atapnya  seperti lazimnya bangunan jawa yang lain, dipadu dengan bentuk genting yang khas pula.

Gereja Puhsarang Kediri


Kompleks gereja Pohsarang merupakan suatu usaha untuk menampilkan umat kristiani dan tempat ibadat katolik dalam budaya setempat. Banyak orang berpendapat bahwa bangunan yang dibuat di Puhsarang indah dan unik serta merupakan karya monumental yang patut untuk dipelihara dan dijaga agar tetap terjaga kelestariannya.

Gereja Puhsarang Kediri


Dengan ramainya kunjungan umat kristiani maupun wisatawan umum ke Gereja Puhsarang Kediri , Baik dari wilayah Kediri sendiri maupun dari luar kota (termasuk mancanegara) jelas akan berdampak pada peningkatan ekonomi  Masyarakat di sekitar gereja Pohsarang Kediri. Pengunjung dapat membeli cinderamata khas wisata religi di tempat ini. | FN

Air Terjun Dolo

Written By Unknown on Sabtu, 01 Desember 2012 | 01.38


Air-Terjun-Dolo
Air Terjun Dolo
Kediri-Portal - Kediri Regency has some beautiful waterfalls. One is the Dolo Waterfall. This resort is located in the hamlet Besuki, Jugo Village, District Mojo, Kediri. Distance from Kediri City to the west, about 25 km (45 minutes). Although a bit far, but the scenery along the road to the location is very beautiful and fairly easy.
For lovers of hiking (mountain climbing), Mountain Besuki is a very attractive alternative for the conquered and enjoyed. Fatigue and thirst relieved, when  reach Dolo Waterfall, coolness and a very dazzling panorama of visitors, the midst  location on the mountain forests Besuki add beautiful and the cool region. Tranquility and comfort that are served will certainly coddle your regular routine and fatigue shackled in the working atmosphere and urban activities.
Situated at an altitude of 1,800 meters above sea level, precisely in Besuki Hamlet, Village Jugo, District Mojo, Kediri Regency with the distance about 30 km (60 menit) from Kediri City, awake enough noise and pollution from the downtown. The beauty of this tourist attraction complete with a fresh and cool air typical of the mountains, plus green and tranquil atmosphere and naturalness of its own waterfall. Location Dolo Waterfall can be seen from the satellite via Google Maps with coordinates 7 ° 52'10 "S 111 ° 50'5" E, which can be tracked via GPS or mobile phone with GPS support.
Your trip will be pampered with a carpet of green pine forest view complete with its distinctive aroma.
Untuk perjalanan menuju Air Terjun Dolo, kita harus berhenti di Dusun Besuki dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, karena jalan menuju ke arah Air Terjun Dolo mendaki dan tidak mungkin dilewati kendaraan. Jalanannya berupa tangga-tangga dari bebatuan yang dibuat melingkari daerah tersebut. Bebatuan tersebut menambah pesona dan nilai tersendiri yang membedakan dengan air terjun ditempat lain.
Setelah dibekukan oleh dinginnya Air Terjun Dolo, pengunjung dapat memanaskan suasana dengan menikmati fasilitas pariwisata yang tersedia seperti Joging ataupun Hiking Area. Bagi yang membawa keluarga dapat mengajaknya ke taman bermain yang tersedia. Tersedia pula Camping Ground bagi pengunjung yang ingin tinggal dan menikmati suasana kawasan ini lebih lama. Beberapa meter dari air terjun, kita dapat menemukan kebun sayur dan strowberi di sebuah pondokan yang terbuat dari bambu, pengunjung bisa membeli sayuran dan stroberi yang masih segar bahkan bisa langsung dapat memetiknya sendiri dari pohon.
Bagi pengunjung yang belum terbiasa dengan suasana dingin disarankan untuk membawa mantel atau baju hangat agar tetap bisa menikmati perjalanan Anda, karena dilokasi biasanya selalu diliputi mendung dan kabut yang tebal ditambah lagi kadar air yang cukup tinggi. | FN
 
gerbang-dolo
Gapura Air Terjun Dolo
Jalan-Menuju-Air-Terjun
Tangga Menuju Lokaasi Air Terjun
dolo1
kediri DOLO 011

Gunung Kelud


Kediri-Portal - Saat ini, Gunung kelud sangat fenomenal dengan kubah baru yang ada dari danau tersebut. Untuk mencapai Gunung kelud, para pengunjung dapat datang dari arah Kediri ke Wates - Margomulyo - Bambingan hingga Jurang Gelap atau Gunung Pedot.
Dari Jurang Gelap sampai kubah baru Gunung kelud se kit ar 2 km dan Anda dapat berjalan kaki. Gunung kelud kini telah berubah, dahulu terdapat kawah hijau, namun kini setelah Gunung Kelud meletus pada tahun 2007  kawah yang indah hilang dan muncul kawah baru yang berbeda dari sebelumnya.
Peningkatan aktivitas Gunung kelud menunjukkan aktivitas fenomenal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Suhu air pada tahun 1990 ketika meletus sekitar 400 derajat Celsius,
 
namun dalam peristiwa ini, suhu air meningkat sampai 77,50 Celsius, membuat termometer rusak akibat pemanasan yang tinggi. Gempa bumi juga mengalami peningkatan, baik vulkanik dan gempa tektonik. Gempa bumi lebih tinggi dibandingkan ketika meletus pada tahun 1990.
Peristiwa puncak Gunung kelud ketika muncul kubah dari danau kawah terjadi pada tanggal 5 November 2007 dengan diameter 100 meter serta tinggi 20 meter dari air kawah. Hingga saat ini, Kubah Lava masih tumbuh perlahan-lahan hingga ketinggian 200 meter dan melebar ke sisi barat daya dari luas danau kawah.
 
Dengan kondisi Gunung kelud saat ini, maka Gunung kelud memiliki wajah baru. Dengan kubah baru yang berasal dari kawah, Gunung Kelud terlihat lebih indah dari sebelumnya, dan merupakan peristwa fenomenal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Perubahan  Gunung kelud dengan Kubah baru sangat menarik bagi pengunjung dan merupakan panorama yang fantastis serta membuat pengunjung penasaran.
 
Kawasan ini berada + 40 km, + 45 menit dari Kota Kediri dan merupakan wisata gunung aktif berketinggian 1730 m dpl. Suasana yang sejuk dan panorama pegunungan yang indah menjadikan kawasan ini menarik bagi wisata alam, petualangan, dan kesehatan. Daya tarik dari obyek wisata ini antara lain:
  1. Area perkebunan yang rindang dan sejuk
  2. Panorama pegunungan yang indah
  3. Area panjat tebing, jogging, lintas alam, dan bumi perkemahan
  4. Jalan lorong menuju kawah di bawah gunung
  5. Danau kawah belerang di bawah gunung
  6. Pusat Informasi Vulkanologi
  7. Pertunjukan hiburan setiap hari libur/besar.
Tempat wisata ini buka setiap hari dan bisa dicapai dengan kendaraan bermotor. | FN
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kediri Portal - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger